Sunday, January 2, 2011

Teori Akuntansi: The Income Statement

Income definitions
Accounting Terminology Bulletin (ATB) 2 mendefinisikan income dan profit sebagai jumlah yang merupakan hasil pengurangan dari revenue (pendapatan), atau dari operating revenue, HPP, serta biaya dan kerugian lain- lain. Sedangkan Accounting Principles Board (APB) Statement 4 mendefinisikan net income atau net loss sebagai kelebihan (kekurangan) pendapatan atas biaya- biaya untuk satu periode akuntansi. Kedua definisi di atas menggunakan pendekatan revenue- expense.
Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) No. 6 menggunakan pendekatan asset- liabilitas untuk mendefinisikan comprehensive income sebagai perubahan pada ekuitas (net assets) sebuah entitas selama satu periode transaksi dan kejadian lain dan circumstances diluar sumber daya pemilik.

Revenues and Gains
ATB 2 mendefinisikan revenue sebagai hasil dari penjualan barang dan memberikan jasa dan diukur dengan harga yang dibebankan kepada konsumen, klien, atau penyewa. Definisi ini menggunakan pendekatan revenue- expense.
Mulai terdapat pergeseran pendekatan yang digunakan dari revenue- expense approach ke pendekatan asset- liabilitas dalam APB Statement 4 yang mendefinisikan revenue sebagai gross peningkatan asset dan gross penurunan liabilitas yang diukur sesuai dengan GAAP yang merupakan hasil dari tipe aktivitas yang bertujuan mendapatkan profit.
Revenue didefinisikan sebagai arus masuk atau peningkatan asset sebuah entitas atau pelunasan liabilitasnya (atau kombinasi keduanya) selama satu periode dari mengantarkan atau memproduksi barang, memberikan jasa, atau aktivitas lain yang merupakan aktivitas operasional utama perusahaan. Definisi ini diberikan oleh SFAC No. 6 dengan menggunakan pendekatan asset- liabilitas.
Ketiga diatas menimbulkan pertanyaan bagaimana mengukur revenue, menyisipkan isu pengakuan ke dalam definisi tersebut. Sedangkan gains sendiri didefinisikan sebagai pendapatan yang diperoleh selain dari hasil penjualan barang dan jasa yang merupakan aktivitas utama perusahaan. Kemudian muncul dua pandangan dalam menyajikan laporan keuangan yaitu current operating income concept dan all- inclusive income concept. Current operating income concept berpikiran bahwa gains tidak menunjukkan produktivitas perusahaan karena berasal dari luar aktivitas utama perusahaan. Oleh karena itu, tidak perlu disajikan dalam laporan keuangan. Namun hal ini ditentang oleh all- inclusive income concept yang berpendapat bahwa semua informasi harus disajikan.
Revenue Recognition
Secara teoritis, revenue harus diidentifikasi pada selama periode dimana mayoritas aktivitas ekonomi yang diperlukan untuk pembuatan dan pelepasan barang dan jasa telah dicapai. Masalahnya, secara praktis sulit untuk melakukan pengukuran yang obyektif. Selain itu, tidak semua aktivitas terjadi dalam satu periode. Berikut ini merupakan empat poin alternative pengakuan pendapatan:
1.      Selama produksi untuk kontrak jangka panjang tertentu, seperti agriculture dan pertambangan yang menggunakan installment method dimana pendapatan diakui pada saat kas diterima. Syaratnya adalah adanya estimasi yang reliable atas proses yang sedang berlangsung seperti lamanya proses, kos untuk menyelesaikan, dan adanya jaminan kolektabilitas.
2.      Pada saat produksi diselesaikan, dengan syarat kondisi market dan demand yang stabil serta produk dapat segera dipertukarkan.
3.      Pengakuan pada saat terjadinya penjualan merupakan prinsip umum dalam pengakuan. Namun terdapat beberapa transaksi baru dimana kondisinya tidak sesuai dengan prinsip ini sehingga menimbulkan masalah baru. Misalnya: penjualan dengan garansi kembali.
4.      Pada saat kas diterima. Pengakuan berdasarkan basis kas diperbolehkan apabila tidak diperoleh reasonable basis untuk estimasi kolektabilitas.

Pengakuan dilakukan pada saat earning proses telah selesai. Terdapat tiga atribut yang harus diukur antara lain: harga jual, pengumpulan (kolektabilitas) kas, dan kos di masa mendatang. Jika ketiga atribut diatas dapat diukur secara reasonable, maka pendapatan harus diakui. Aturan tradisional mengenai pengakuan lebih menekankan pada laporan laba rugi, sementara standar- setting (SFAS No. 157) tentang fair value measurement mulai bergeser ke neraca.


Expenses and Losses
Expenses atau biaya didefinisikan oleh ATB 4 melalui pendekatan revenue- expense, meliputi semua expired cost yang sudah dikurangkan dari pendapatan. Sedangkan menurut APB Statement No. 4, biaya adalah gross penurunan pada asset atau gross peningkatan pada liabilitas yang diakui dan diukur sesuai dengan GAAP yang dihasilkan dari aktivitas profit- oriented suatu entitas. Sedangkan dengan menggunakan pendekatan asset- liabiltas dalam SFAC No. 6, biaya adalah arus keluar atau penggunaan lain asset atau kewajiban yang terjadi (atau kombinasi keduanya) selama suatu periode dari mengantarkan atau produksi barang, memberikan jasa, atau melakukan aktivitas lain yang merupakan aktivitas operasi utama perusahaan.

Losses atau kerugian didefinisikan dalam APB Statement No. 4 dan SFAC No. 6 dalam cara yang sama seperti gains. Losses mencerminkan pengurangan pada net asset tapi tidak dari expenses atau transaksi modal.

Pengakuan terhadap expenses atau biaya terdapat dalam APB Statement No. 4 dimana expenses itu sendiri diklasifikasikan menjadi tiga kategori yaitu:
1.      Kos yang diasosiasikan secara langsung dengan periode pendapatan.
2.      Kos yang diasosiasikan dengan periode dengan beberapa basis.
3.      Kos yang secara praktik tidak dapat diasosiasikan dengan periode manapun.

Jika memungkinkan, kos harus dibandingkan dengan biaya yang digunakan untuk menghasilkan pendapatan tersebut. Jika tidak dapat dilakukan secara langsung, maka kos dapat dibandingkan dengan pendapatan dengan menggunakan cara yang rasional dan sistematis. Apabila kedua cara sebelumnya itu tidak dapat dilakukan, maka kos diakui pada periode biaya terjadi. kos yang terjadi di periode saat ini maupun periode lampau, yang tidak memiliki manfaat di masa mendatang harus diakui sebagai expense sesegera mungkin. Sebenarnya para akuntan berpendapat bahwa metode alokasi bersifat arbitrary, artinya tidak ada satu metode yang lebih baik dari metode yang lain. Oleh karena itu terdapat beberapa yang menyarankan allocation- free accounting dengan menggunakan laporan arus kas, exit- price systems, dan tipe tertentu dari replacement- cost system.

Future Events and Accounting Recognition

Berikut ini merupakan beberapa aspek mengenai kejadian di masa mendatang:
1.    Persepsi atas kejadian masa lalu menggunakan one- event view dimana suatu kejadian hanya dilihat dari sisi satu pihak atau two- event view yang dilihat dari kedua pihak. One- event view lebih reliable.
2.    Probabilitas kejadian di masa mendatang merupakan salah satu masalah besar terkait dengan asumsi dan estimasi di masa yang akan datang. Misalnya asumsi bahwa kos yang digunakan untuk memperoleh asset akan terganti (recovered) dari kegiatan operasi di masa mendatang, asumsi bahwa kewajiban akan dapat dibayar tepat waktu, atau terkait masalah kontinjensi.
3.    Tujuan manajemen à ditolak sebagai basis pengakuan kejadian karena manajemen mungkin saja merubah tujuannya. Selain itu, adanya teori keagenan dan perbedaan tujuan manajemen di masing- masing perusahaan menyebabkan berkurangnya daya banding.
4.    Nilai pasar mencerminkan consensus pasar atas kondisi saat ini yang merupakan present value dari ekspektasi kondisi di masa mendatang. Kelemahannya adalah beberapa harga pasar mungkin saja merupakan hasil dari perdagangan sekuritas secara kecil sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai penyajian yang sejujurnya (representational faithfulness) dan verifiabilitas.
5.    Konservatisme. Menurut analisis Beaver, kemajuan dalam menyelesaikan masalah terkait kejadian di masa mendatang, akan memperkecil perannya.
6.    Kondisi ekonomi di masa mendatang: konsensus untuk menghindari prediksi perubahan ekonomi di masa mendatang kecuali bila ada bukti yang kuat.
7.    Peraturan legal di masa mendatang: menolak memprediksi perubahan legal di masa mendatang sebelum draft- nya diberlakukan.

Current Operating vs All- Inclusive Income
Terdapat dua pandangan mengenai komponen- komponen tertentu dalam comprehensive income, apakah disajikan dalam laporan keuangan atau laporan laba ditahan. Current operating concept berpendapat bahwa laporan keuangan hanya berisi informasi yang berkaitan dengan aktivitas utama perusahaan, sedangkan extraordinary items (gains and losses) disajikan di laporan laba ditahan. Alasannnya adalah bahwa extraordinary items tersebut tidak digunakan manajemen dalam pengambilan keputusan dan hal tersebut tidak mencerminkan produktivitas perusahaan. Pengguna laporan keuangan cenderung hanya melihat angka paling bawah (total) di laporan keuangan tanpa melihat rinciannya sehingga dikhawatirkan bila extraordinary dimasukkan, akan menyesatkan pengguna.
Namun all- inclusive concept berpendapat lain. Ada beberapa alas an, antara lain: konsep current- operating akan mempermudah manajemen untuk melakukan manipulasi, pengguna laporan keuangan mungkin tidak menyadari substansi gains dan losses yang disembunyikan dalam laporan laba ditahan, jumlah total income di laporan keuangan harus mencerminkan income selama satu periode, dan dapat dilakukan klasifikasi yang tepat dalam laporan keuangan antara aktivitas operasi normal perusahaan dengan aktivitas di luar usaha sehingga keduanya dapat disajikan dalam satu laporan.
AAA lebih cenderung pada all- inclusive concept, sedangkan AICPA awalnya lebih memilih current- operating concept hingga keluarnya APB Opinion No.9 . Dalam isu kedua konsep ini, ada pula yang disebut bath teory dimana terdapat pemikiran bahwa dengan mancantumkan seluruh gains dan losses dalam laporan keuangan, berdampak positif pada harga saham perusahaan tersebut karena investor beranggapan perusahaan tersebut telah berhasil menemukan kesalahan dalam perusahaannya sehingga dapat segera diperbaiki.

Comprehensive Income
Comprehensive income menggunakan pendekatan all- inclusive concept dan termasuk dalam cakupan proprietary theory karena seluruh perubahan terhadap ekuitas (kecuali untuk transaksi modal dengan pemilik) dimasukkan dalam perhitungan comprehensive income. Selain itu, ia juga dianggap tepat untuk tujuan prediksi dan penilaian ekuitas.
Elemen comprehensive income terdapat pada SFAS No. 130 antara lain penyesuaian translasi kurs mata uang asing, unrealized holding gains and losses of available-for-sale securities, penyesuaian kewajiban minimum dana pension, discontinued operations, extraordinary items, dan gains atau losses yang berasal dari akumulasi perubahan prinsip akuntansi, dsb. FASB menyatakan bahwa EPS tidak boleh dimasukkan dalam perhitungan comprehensive income karena alasan fleksibilitas kebijakan pelaporan: jika comprehensive income disajikan dalam laporan perubahan ekuitas, maka perhitungan EPS akan membingungkan dan tidak konsisten.
SFAS No. 130 mengijinkan tiga metode pelaporan comprehensive income antara lain: kombinasi dengan laporan kinerja keuangan (comprehensive income disajikan di bawah net income), laporan terpisah yang akan dimulai dengan net income, dan dicantumkan dalam laporan perubahan ekuitas. FASB menyarankan untuk menggunakan metode yang pertama. Namun ada dua anggota SFAS yang berselisih karena mereka berkeyakinan bahwa kebanyakan perusahaan akan lebih cenderung pada metode ketiga. Hal ini akan mengurangi visibilitas dan pentingnya comprehensive income.

Nonoperating Sections
          Extraordinary items
Telah dikembangkan sejak APB Opinion No.9 dan sekarang terdiri dari tiga subdivisi yaitu: extraordinary items, perubahan prinsip akuntansi, discontinued operations. Selanjutnya, item keempat yaitu penyesuaian periode sebelumnya yang disajikan di laporan laba ditahan.
Penyajian extraordinary items memicu kontroversi yang basisnya adalah persepsi pengguna laporan keuangan atas hasil operasi, dan proyeksi operasi di masa mendatang untuk entitas pelaporan. Hal tersebut sangat bergantung pada kemampuan untuk memisahkan operasi normal dengan operasi yang di luar usaha atau jarang terjadi. Selama 19 tahun, pelaporan extraordinary items tidak seragam. Kemudian APB Opinion No. 9 berusaha mengatasi kekacauan dengan meminta disajikannya extraordinary items dalam sebuah bagian khusus di laporan keuangan. Extraordinary items didefinisikan sebagai kejadian atau transaksi yang memiliki dampak material yang diharapkan jarang terjadi dan tidak dipertimbangkan sebagai factor rutin dalam evaluasi operasi dan proses bisnis secara rutin. Namun definisi tersebut masih dirasa ambigu. Akhirnya APB mengeluarkan APB Opinion No. 30 yang mendefinisikan extraordinary items sebagai item yang harus memenuhi dua syarat yaitu unsual in nature dan infrequency of occurrence. Apabila suatu kejadian atau transaksi memenuhi dua persyaratan tersebut, maka ia harus dilaporkan dalam laporan keuangan dibagian tersendiri sebelum net income dan disajikan net of tax. Namun jika terdapat kejadian atau transaksi yang hanya memenuhi salah satu dari persyaratan tersebut, maka disajikan bersama dengan revenue, costs, dan expenses seperti normal operasi yang lain serta tidak boleh disajikan net of tax. Jika material, maka dipisahkan dari item lain. Tapi jika tidak material, maka tidak dipisah.
Accounting Changes
Perubahan akuntansi dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu perubahan prinsip akuntansi, perubahan estimasi akuntansi, dan perubahan entitas pelaporan.

No comments:

Post a Comment